Tampilkan postingan dengan label hipnoterapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hipnoterapi. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 November 2013

LUPA INGATAN GARA2 HIPNOTIS? IH.. NGERIII

Waspadai Kejahatan Jenis Baru, Lupa Ingatan Gara-gara Dihipnosis!

Banyak orang menjadi terlalu khawatir. Mereka tidak melihatnya sendiri, tidak mendengar langsung dan belum pernah merasakannya sendiri. Meskipun hanya mendengar “desas-desus” yang santer diberitakan oleh orang-orang disekitarnya, banyak orang yang menjadi semakin ketakutan. Mereka menjadi takut keluar sendirian, mereka mengalami kekhawatiran yang berlebih dan banyak kegiatan yang menjadi terganggu, tertunda dan gagal.
Bayangkan saja, mereka menjadi tidak mandiri lagi. Mereka harus bergandengan dan bergerombol ketika berada di tempat keramaian. Mereka selalu mencurigai setiap orang yang mereka anggap aneh dan mengancam. Bahkan banyak orang-orang baik pun mereka sangka sebagai penjahat. Inilah yang terjadi ketika mereka mendengar jika ada “kejahatan baru” yang baru lahir.
Kejahatan baru apa itu? Ternyata yang dimaksud adalah HIPNOSIS. Mereka mendengar kabar jika hipnosis dapat digunakan untuk membuat seseorang lupa ingatan. Cerita demi cerita pendukung pun mereka asumsikan sebagai kambing hitam dari berita ini. Misalnya banyaknya penipuan yang terjadi di Kotak Uang Ajaib (Mesin ATM). Ada banyak korban yang dilupakan ingatannya dan dikuras habis-habisan uang di rekeningnya.
Belum lagi cerita yang lain. Si “anu” mengatakan jika baru-baru ini ada seorang ibu yang di-hipnosis sampai lupa ingatan. Semua perhiasannya digondol peng-hipnosis tanpa sadar. Ada lagi kisah lainnya? Tentu ada. Tak lama berselang, beredar gosip yang lebih dramatis. Seorang wanita diperkosa oleh seorang penjahat yang disinyalir berilmu tinggi, ahli meng-hipnosis. Bukan hanya dompet seisinya yang raib tetapi juga keperawanannya pun ikut dijebol. Pantas saja jika kabar miring mengenai kejahatan jenis baru hipnosis ini membuat banyak orang ketakutan.
Apakah Benar Jika Kejahatan Tersebut adalah Akibat dari Hipnosis?
Belum tentu. Tidak semua kejahatan yang kita dengar tersebut adalah hipnosis. Sangat mungkin jika hipnosis dijadikan kambing hitam dibalik tindak kejahatan tersebut. Hipnosis sebenarnya sangat aman. Meskipun begitu, hipnosis juga mungkin digunakan untuk hal tersebut.
Namun secara kasat mata saja, banyak kejadian yang tadinya diatasnamakan hipnosis ternyata hanyalah praktek kejahatan biasa. Mungkin orang-orang terlalu mendramatisir keadaan. Mungkin juga korban merasa jika dirinya di-hipnosis agar tidak terlihat bodoh dihadapan orang lain (ditipu).
Mengapa demikian? Sudah jelas jika hipnosis akan terjadi jika “ada ijin” dari korban. Nah, jika hipnosis memang benar-benar manjur untuk tindak kejahatan, buat apa para praktisi hipnosis dan hipnotherapi membuka klinik & jasa hipnoterapi? Pasti akan lebih menguntungkan jika mereka mangkal ditempat-tempat umum dan merampok semua orang kaya yang ditemuinya dengan hipnosis. Jika perlu pak polisinya sekalian, benar kan?
Apakah Hipnosis Benar-benar dapat Membuat Seseorang Lupa Ingatan?
Tentu saja TIDAK. Hipnosis tidak dapat digunakan untuk menghapus ingatan secar total dan permanen. Jika dimungkinkan pun hipnosis hanya dapat digunakan untuk menghapus ingatan secara parsial (sebagian) dan sifatnya tidak permanen.
Contohnya adalah sebagai berikut :
  • Pada pertujukan “Stage Hipnosis” (hipnosis panggung)
Membuat seseorang menjadi lupa dengan namanya untuk beberapa waktu. Namun akhirnya orang tersebut dapat mengingat namanya kembali (normal). Bahkan jika sang hipnotist (orang yang menghipnosis) lupa mengembalikan namanya.
  • Efek amnesia (lupa ingatan) pada sesi hipnotherapi
Contoh lainnya adalah hipnoterapi untuk membuat efek amnesia (lupa ingatan), mengurangi kekuatan dan emosi emosi negatif seseorang. Jika sebelumnya seseorang akan langsung merasa sedih dan kecewa yang mendalam ketika mengingat sesuatu, maka setelah dihipnotherapi muatan emosi tersebut akan berkurang atau hilang. Artinya pengalaman itu masih ada namun muatan emosinya sudah lenyap. Jadi orang tersebut tidak merasa sedih dan kecewa lagi ketika mengingat pengalaman tersebut.
Masih takut dengan hipnosis? Masih percaya jika hipnosis dapat menyebabkan seseorang lupa ingatan? Perlu baca kembali artikel ini dari awal sampai akhir. Pasti bermanfaat. Mau lebih bermanfaat? Bagikan pengetahuan ini pada orang lain.

sumber: By  

Rabu, 13 November 2013

hipnoterapi 3

Reverse Metaphor

Reverse Metaphor
Pikiran Bawah Sadar (Sub-Conscious Mind) menyimpan berbagai data, termasuk pengalaman dan kejadian di masa silam. Pikiran Bawah Sadar ini bahkan “mengetahui” hal-hal yang mungkin terlewatkan dari pengamatan Pikiran Sadar.

Berdasarkan prinsip ini, maka salah satu teknik untuk mengetahui “apa yang terjadi” di masa silam yang mungkin berkaitan dengan kasus client, adalah dengan cara “bertanya” kepada Pikiran Bawah Sadar. Akan tetapi hal yang perlu juga diketahui bahwa Pikiran Bawah Sadar pada umumnya memberikan informasi berupa simbol-simbol atau “metafora”. Oleh karena itu Hypnotherapist perlu membangun “jembatan” sebagai penghubung antara Pikiran Bawah Sadar dan Pikiran Sadar, agar informasi ini dapat diterjemahkan ke bentuk bahasa verbal.

Teknik untuk merubah informasi berbentuk “metafora” menjadi informasi verbal inilah yang disebut sebagai teknik “Reverse Metaphor”.

hipnoterapi 2

ISE & SSE

ISE & SSE
Dalam menangani suatu kasus, terkadang kita perlu untuk mengetahui “akar” permasalahan dimana kasus ini bermula. Biasanya akar yang dimaksud terjadinya pada masa kecil, dimana pada saat-saat tersebut kepribadian seseorang belum stabil dan mudah “terusik” oleh suatu kejadian yang dianggap penting.

Sebagai contoh, pada seseorang yang memiliki keluhan “tidak percaya diri jika berbicara di depan umum”, seringkali diakibatkan oleh suatu kejadian penting di masa kecil. Perilaku manusia seperti pohon, memiliki daun, ranting, batang, dan akar. Jika pada “akar” dilakukan sesuatu, maka akan mengakibatkan perubahan pada “daun” yang dianggap sebagai “symptom”. Hal inilah yang mendasari konsep pentingnya untuk melakukan “discovering the root cause” pada kasus-kasus tertentu. Dengan memahami “akar permasalahan”, maka kita dapat melakukan “perbaikan keadaan” di tingkat akar, yang selanjutnya akan mempengaruhi perilaku di masa kini.

Kejadian yang mengawali suatu permasalahan, yang biasanya terjadi di masa kecil, dikenal dengan nama Initial Sensitizing Event (ISE). Akan tetapi perlu dicatat bahwa tidak setiap ISE akan membawa pengaruh ke perubahan perilaku di masa datang. ISE baru benar-benar menjadi akar dari suatu permasalahan jika terdapat kejadian-kejadian penguat berikutnya setelah munculnya ISE tersebut. Kejadian-kejadian penguat tersebut dinamakan dengan Subsequent Sensitizing Event (SSE).

hipnoterapi 1

Client Center Therapy

Client Center Therapy (CCT) merupakan “mazhab” baru di dunia Hypnotherapy, dimana dalam konsep CCT ini Client ditempatkan sebagai “sentral” dalam seluruh proses therapy yang diterapkan.

Bermula dari Hypnotherapy di masa silam (awal abad ke 20) yang lebih bernuansa Authoritarian, dimana Client hanya dalam posisi “pasif” alias “pasrah” untuk menerima sugesti atau saran dari seorang Hypnotherapist yang umumnya menerapkan teknik “Direct Suggestion” saja. Faktanya proses Hypnotherapy semacam ini sangat tidak efektif, dan dianggap tidak dapat “menyentuh” archetipe dari Client. Prosentase kesembuhan melalui teknik Hypnotherapy sangatlah kecil, sehingga teknik lain seperti Psychotherapy justru lebih diminati.

Sejalan dengan perkembangan pengetahuan Hypnotherapy itu sendiri, melalui berbagai tokoh-tokoh pembaharu, antara lain : Milton H. Erickson, Charles Tebbets, Dave Elman, dll., paradigma Hypnotherapy mulai bergeser, yaitu menempatkan Client sebagai sentral.

Prinsip dasar dari CCT adalah menganggap bahwa Client-lah sebagai pihak yang paling mengetahui permasalahan apakah yang sesungguhnya telah terjadi, demikian juga Client-lah yang akan mengetahui sumber-daya (resources) apakah yang dapat dipergunakan untuk penyembuhan. Dalam CCT, seorang Hypnotherapist lebih berperan sebagai fasilitator untuk membantu Client menemukan permasalahannya, menemukan penyelesaiannya, dan mengintegrasikannnya. Dalam perannya sebagai seorang fasilitator, maka seorang Hypnotherapist menggunakan berbagai teknik Hypnotherapeutic yang umumnya diterapkan secara “permissive”.

hypnosis 3

Critical Area

Diantara Conscious Mind dan Sub-Conscious Mind terdapat suatu “perangkat” yang berfungsi sebagai filter yang bertugas untuk “menyaring” data yang berasal dari luar (yang masuk melalui panca indera) agar tidak begitu saja masuk ke Sub-Conscious Mind. Perangkat ini secara umum disebut sebagai “Critical Area”.

Pada beberapa buku “Critical Area” ini sering juga disebut sebagai RAS atau Reticular Activating System, yang lebih menyoroti pengaruh dari fungsi neuro terhadap keaktifan filter ini.

Secara sederhana, Critical Area merupakan penampungan data sementara, sebelum data ditindak-lanjuti untuk diteruskan ke Sub-Conscious Mind, dipertahankan, atau di-“lenyapkan”. Fungsi filter dari Critical Area sangat dipengaruhi oleh logika, etika, fokus, minat, dan emosi.

Seseorang yang berada dalam kondisi “Hypnos” dalam atau “Deep Trance”, filter-nya akan terbuka “lebar”, sehingga seluruh informasi (saran) yang berasal dari luar relatif akan mudah memasuki Sub-Conscious Mind.

Seorang Hypnotist memiliki keterampilan untuk membuat Critical Area seseorang “tidak aktif”, atau dengan kata lain filter-nya akan lebih terbuka dibandingkan dalam keadaan “Normal State”.

GUNUNG ES MANUSIA - hypnosis 2

Mekanisme Perilaku & Tindakan Manusia

Mekanisme Perilaku & Tindakan Manusia
Pada acara hipnotis panggung (entertainment hypnosis), acapkali mempertunjukkan fenomena yang dianggap tidak masuk akal alias irasional. Sehingga bahkan tidak sedikit pihak yang menduga bahwa acara Stage Hypnosis hanyalah sekedar rekayasa untuk kebutuhan hiburan belaka.

Untuk memahami hal ini, mungkin sebaiknya kita mencoba untuk mencari tahu, apakah mekanisme yang terjadi di balik setiap tindakan manusia ? Hal ini mungkin dapat menjelaskan dengan baik berbagai kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang sebetulnya sangat mirip dengan pertunjukkan hipnotis, yaitu bagaimana seseorang dapat melakukan tindakan yang “tidak masuk akal”.

Manusia bertindak dengan dilandasi pikiran, dan salah satu model psikologi menjelaskan bahwa pikiran terdiri dari bagian utama, yaitu : Pikiran Sadar (Conscious Mind) dan Pikiran Bawah Sadar (Sub-Conscious Mind).

Pikiran Sadar merupakan bagian dari pikiran kita yang bertugas untuk melakukan analisa dan pertimbangan-pertimbangan rasional, seringkali disetarakan dengan bagian kiri dari otak kita (Left Brain).

Pikiran Bawah Sadar berisikan database yang mencerminkan diri kita, dimana database ini merupakan akumulasi dari berbagai pemahaman, penalaran, pengalaman, bahkan penularan (induksi dari pihak lain) sejak mulai kita lahir sampai dengan hari ini.

Pikiran Bawah Sadar seringkali disetarakan dengan bagian kanan dari otak kita (Right Brain), oleh karena itu Pikiran Bawah Sadar merupakan wilayah yang didominasi oleh rasa dan emosi.

Yang paling menarik, Pikiran Bawah Sadar cenderung bersifat “netral” terhadap data atau informasi yang masuk. Netral artinya tidak mengenal “baik” dan “buruk”, “salah” atau “benar”. Suatu data yang telah “berhasil” memasuki Pikiran Bawah Sadar dan telah menjadi memori permanen, maka dianggap sebagai “kebenaran”, walaupun mungkin sebenarnya data tersebut relatif “salah” berdasarkan kaidah umum.

Contoh klasik, pada saat kita kecil, ketika orang tua kita mengatakan : “… awas jangan main jauh-jauh, nanti kamu diculik hantu ….”, maka Pikiran Bawah Sadar seorang anak tentu tidak memahami apakah pernyataan tersebut “benar” atau “salah”, yang lebih dipahami adalah bahwa kata-kata orang tua pasti “benar” adanya, maka sejak saat itu di Pikiran Bawah Sadar terdapat data, bahwa hantu itu ada !

Hal lain yang menarik, bahwa ternyata porsi Pikiran Bawah Sadar ternyata sangat dominan dalam menentukan tindakan seseorang, Sebuah buku yang berjudul “Peace of Mind” dari Sandy Mc Gregor menyatakan bahwa kontribusi Pikiran Sadar hanyalah 12%, sedangkan kontribusi Pikiran Bawah Sadar adalah 88%. Jadi fenomena Pikiran Bawah Sadar sangat mirip dengan dasar dari gunung es yang jauh lebih besar daripada puncaknya yang terlihat.

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa pikiran rasional saja tidaklah “cukup” untuk mewujudkan suatu tindakan ! Karena rasional adalah tugas dari Pikiran Sadar yang hanya berkonstribusi sebanyak 12% terhadap mekanisme suatu tindakan.

Oleh karena itu, walaupun mungkin anda belum pernah melihat hantu, atau secara rasional seharusnya hantu tidak perlu dianggap ada, tetapi saya yakin ketika anda melewati kamar mayat RSCM di tengah malam pasti anda akan takut ! Artinya, rasio anda tidak cukup mampu untuk membuat anda “berani”, karena Pikiran Bawah Sadar anda “terlanjur” mempercayai bahwa fenomena hantu adalah benar adanya !

Dengan komposisi kontribusi Pikiran Sadar 12% vs Pikiran Bawah Sadar 88%, maka kita dapat dikatakan nyaris merupakan “mahluk bawah sadar” !

Dari uraian di atas mungkin banyak hal yang sebenarnya tidak kita inginkan, tetapi “terlanjur” masuk ke pikiran bawah sadar karena banyaknya induksi dalam kehidupan ini.

Setiap orang secara alamiah pasti memiliki keinginan untuk selalu bergerak maju, tetapi di sisi lain seringkali yang terjadi justru mereka “berbelok” atau “ditarik” ke arah yang sebaliknya oleh pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar dapat menjadi kekuatan yang mendukung keinginan kita, atau sebaliknya dapat menjadi musuh kita yang paling kuat !

Dari berbagai hal yang telah dipaparkan, mungkin timbul suatu pertanyaan, dapatkah kita “membuang” hal-hal yang tidak memberdayakan yang sudah “terlanjur” berada di pikiran bawah sadar kita ? Dapatkah kita memasukkan hal-hal yang lebih positif ke pikiran bawah sadar sehingga pikiran bawah sadar akan bergerak selaras dengan keinginan kita ?

Jawabannya dapat ! Hipnotis adalah salah satu cara yang efektif untuk pemrograman dan pemrograman ulang pikiran bawah sadar !

Hypnosis 1

Apakah Sesungguhnya Hypnosis Itu ?

Apakah Sesungguhnya Hypnosis Itu ?
Jika kita mendengar kata “Hypnosis”, maka kemungkinan kita akan membayangkan suatu peristiwa yang tidak biasa, dimana seseorang dapat sedemikian mudahnya “mengontrol” orang lain, dan memberikan perintah-perintah yang terkadang tidak masuk di akal sehat, sesuatu yang sering kita saksikan di layar kaca.

Apa sesungguhnya Hypnosis itu ? Apakah Hypnosis terkait dengan kekuatan supranatural ? Apakah Hypnosis terkait dengan kuasa gelap, magis, atau mistik ?


***


Hypnosis berasal dari kata “Hypnos” yang berasal dari kata Bahasa Yunani yang berarti “Dewi Tidur”. Istilah Hypnosis sendiri diperkenalkan oleh Dr. James Braid, seorang dokter berkebangsaan Inggris yang merupakan salah satu peneliti fenomena Hypnosis moderen.

Hypnosis memiliki banyak makna, dan bersifat kontekstual, tergantung dari sudut mana kita akan membahasnya.

Salah satu makna dari Hypnosis adalah bahwa “Hypnosis” merupakan salah satu dari keadaan kesadaran manusia (State of Consciousness), dimana dalam konteks ini “keadaan kesadaran manusia” secara sederhana dapat dibagi menjadi tiga keadaan alami, yaitu :

Normal State
Keadaan ini adalah keadaan normal seperti yang kita pahami dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan dimana manusia bergerak sangat aktif dengan fokus pemikiran ke berbagai hal. Pada keadaan ini manusia cenderung untuk sulit menerima suatu “saran” yang berasal dari luar dirinya.

Hypnosis State
Keadaan ini adalah keadaan dimana obyek fokus pemikiran mulai berkurang, dan “area kritis” mulai berkurang keaktifannya. Pada kondisi ini manusia mulai lebih mudah menerima suatu “saran” yang berasal dari luar dirinya. Hypnosis State sering juga disebut sebagai kondisi “Hypnos” atau “Hipnosa”.

Sleep State
Keadaan tidur alami (tanpa mimpi), dimana pada keadaan ini pikiran manusia benar-benar terputus dari dunia luar, sehingga dalam kondisi ini manusia juga tidak dapat menerima saran yang berasal dari luar.

***

Dari penjelasan sederhana di atas, maka mulai dapat dipahami bahwa dalam suatu peristiwa Hypnosis, seorang Hypnotist (juru hipnotis) melakukan suatu proses tertentu yang dapat “menempatkan” seseorang ke dalam kondisi “Hypnos”, sehingga selanjutnya yang bersangkutan akan lebih mudah untuk “menerima” saran-saran yang disampaikan oleh Hypnotist tersebut, bahkan terkadang saran-saran yang mungkin dianggap tidak masuk akal.


***

Keadaan “Hypnos” merupakan keadaan alami sehari-hari kita, dimana dalam aktivitas sehari-hari kita nyaris selalu berpindah dengan cepat terutama dari keadaan “Normal” ke keadaan “Hypnos” dan sebaliknya.

Saat memasuki sebuah pusat perbelanjaan, kita dalam kondisi “Normal”, akan tetapi saat kita mengamati suatu barang yang menarik, mungkin kita akan segera memasuki kondisi “Hypnos”, sehingga seluruh citra barang tersebut menjadi lebih mudah kita rasakan, bahkan selanjutnya mungkin akan memicu rasa ingin memilikinya.

IBH - The Indonesian Board of Hypnotherapy

yipiiiii.... akhirya sertifikat yang di janjikan dateng juga
asikkkk...



nah sekarang gw dah bisa member di IBH deh 


Selasa, 05 November 2013

ISHH - Indonesia School of Hypnosis & Hypnotherapy

ASIKKKK....
gw dah lulus dong dari kelas hipnotis dan hipnoterapi
kebetulan gw ikut kelasnya pak iwan d gunawan...
nah kalian sendir apa yang kalian lakukan akhir2 ini? apakah ada kegiatan?






berikut foto2nya ahai asik deh pokoknya
mantap udah bisa hipnotis org hahahha

kalo ada yang berminat pengen di hipnotis bisa menghubungi gw aja
bisa telp atau hub gw via fb oke...

yosephine.yohana@gmail.com